Tampilkan postingan dengan label Hamasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamasah. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2013

Try to be this Person

~ur patient when u have nothing, ur attitude when u have everything~

Berpikir tentang ciri-ciri orang sukses:
  • memegang teguh agamanya
  • ramah 
  • terlihat mudah memandang berbagai masalah
  • tak menceritakan kesulitannya
  • tak menampakan emosinya
  • solusi bagi orang lain
  • membuat orang lain merasa dirinya diistimewakan padahal ia melakukannya ke semua orang
  • paling utama, mau berletih-letih memanfaatkan otaknya untuk berpikir lebih keras dan terus menerus
  • optimis
  • ceria
  • semangat
  • menyembunyikan strategi pribadi dan impiannya
  • namun senang memberikan informasi kepada orang lain
  • menutupi aibnya
  • fokus pada tujuan
  • pantang menyerah
  • tak mudah jatuh karena hatinya lapang

Maka..
  • Bersedih-sedihlah dalam ibadah yang sedikit
  • Berletih-letihlah dalam bekerja
  • Berlelah-lelahlah dalam berpikir
  • Berhati-hatilah dalam bertindak
  • Bersenang-senanglah dalam berteman
  • Berubahlah demi hidup dunia dan akhirat

Try to be this person..

Rabu, 25 September 2013

THE POWER OF WORDS (PUJIAN)





Secara psikis setiap orang umumnya akan merasa bahagia, senang manakala orang lain memujinya. Misalnya saja seorang perempuan yang berdandan lalu ia keluar rumah dan bertemu tetangganya, saat si tetangga berkata “Wah ibu, tambah cantik aja ya makin hari”, hari itu pun akan berubah menjadi hari bahagia bagi si wanita, perasaannya melambung, gembira karena usahanya berdandan selama ini tidak sia-sia.
Pujian juga merupakan bentuk respek, pemberian penghargaan kepada anak. Jika anak mengerjakan sesuatu kemudian kita memberikan pujian, ia akan semakin bersemangat mengerjakannya. Berbeda saat kita mencela, mengatakan hal yang buruk tentang hasil pekerjaannya, ia akan kecewa, tidak percaya diri untuk terus mengerjakannya.

Pujian, bentuknya bisa langsung kepada orang yang dituju atau melalui perantaraan. Misal, seorang Ibu yang memuji anaknya karena bacaan Qur’annya yang bagus, ia akan bilang “Waaah, anak ummi ngajinya pinter yaaa, ummi seneeeng banget denger ananda ngaji, semoga menjadi anak yang sholehah” atau bahkan diikuti dengan pemberian hadiah kepada si anak. Atau melalui perantara, sering kita jumpai orang tua yang memuji atau memberitahukan kelebihan-kelebihan anaknya kepada teman atau orang yang ia temui. Merupakan kebanggan bagi orang tua bila anaknya berprestasi. Misal kita mendengar percakapan dua ibu yang mengantar anaknya sekolah. Si ibu berkata “Anak saya kalau belajar gak pake disuruh lho bu, inisiatif sendiri, abis makan malem, slalu buka buku sendiri trus belajar”. Jika si anak ada didekat percakapan itu, jelas ia akan mendengar dan itu menjadi apresiasi bagi dirinya bahwa ibunya membanggakan dia di depan orang lain dan memotivasinya untuk terus berinisiatif belajar sendiri. Atau efek lainnya si ibu teman mengobrol akan bilang ke si anak “Wah, ananda hebat ya, rajin belajarnya” dan efek-efek lainnya.

Pujian pada akhirnya merupakan alat untuk memberikan motivasi kepada orang lain. Pujian hendaknya disampaikan langsung kepada obyek. Karena melaui perantara kadang justru kurang disukai obyek atau bahkan ia tidak pernah tahu bahwa pernah ada pujian kepadanya. Senang memberikan pujian, merupakan bentuk apresiasi kita kepada orang lain yang menunjukkan kemuliaan akhlak kita, yang juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Selasa, 25 Juni 2013

Cermin Peradaban



 

Setelah mengetahui dirinya mengandung, sang ibu akan sering bernyanyi dan bermain piano. Si Ibu dan Bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikannya bersama tanpa merasa jenuh. Sang Ibu pun sangat peduli dengan asupan makanan. Sejak awal mengandung dia suka sekali makan kacang badan dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang. Menu makan malam utama adalah ikan. Ikan dan daging tidak bersama dalam satu meja. Salad dan kacang adalah kemestian. Uniknya, yang dihidangkan diawal adalah buah-buahan. Adakah hal lain? Merokok adalah tabu. Cod Oil Lever suplemen anak setelah makan...

Di bumi yang sama, Ramadhan lalu, 3500 anak dilantik sebagai hafidz. Ibu seperti apa yang membesarkan mereka.

Adaptasi tulisan Dr.Stepen Carr Leon
Sabili No.16 Th.XV

Rabu, 01 Mei 2013

Sudah Khusyukkah Shalat Kita?



Sesungguhnya shalat menghindari dari perbuatan keji dan munkar. Tidaklah shalat ketika sesorang melakukan hal-hal musyrik (syirik), keji, dusta, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karenanya, shalat menjaga perilaku kita. Lalu, bagaimanakah shalat kita saat ini? Bagaimana pandangan kita terhadap makna shalat? Apakah sebuah kebutuhan, rutinitas, ataukah kewajiban?

Dalam surat Al-Mu'minun 1-3
1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya,
3. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.

Induk dari seluruh amal ibadah adalah shalat. Ibarat lokomotif pada sebuah kereta dan kepala pada sebuah tubuh. Jika shalat dilaksanakan dengan benar, maka semua amal yang dilakukan setelahnya menjadi benar. Jika shalat itu tidak benar, maka tidak sempurna amal yang dilakukan setelahnya (rusak). Benar disini artinya shalat tersebut mendapatkan khusyuknya.

Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada yaumul hisab adalah shalat. Shalat adalah jantung ibadah. Dan khusyuk bukanlah hal yang tidak dapat kita raih. Teringat pada kisah seorang sahabat Rasulullah SAW yang terkena panah dan meminta untuk dicabut panahnya ditengah shalat. Karena khusyuk shalatnya membuat ia seakan-akan terpisah dari dunia.

Rasulullah SAW berucap pada Bilal "Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan Shalat". Bilal pun mengumandangkan adzan. Shalat yang khusyuk membuat hati menjadi lebih tenang. Khusyuk dibagi menjadi dua:
  1. Khusyuk lahiriyah, dimana secara lahir berusaha untuk meraihnya. Cirinya dengan gerakan sholat yang benar dan berusaha untuk memaknai bacaannya.
  2. Khusyuk batiniyah, dimana selain hadirnya khusyuk lahiriyah diikuti dengan rasa pasrah, takut, dan rasa diawasi oleh Allah SWT.
Bisa jadi saat shalat kita hanya mendapatkan khusyuk lahiriyah atau bahkan tidak mendapatkan khusyuk sama sekali karena dunia masih ada dalam hati dan pikiran.

Imam Ghazali memberikan langkah-langkah untuk memperoleh khusyuk:
  • Kehadiran hati saat melaksanakan shalat, yaitu berniat. Sadar akan niatan ditengah shalat akan membatalkan shalat tersebut. Misal seseorang yang berniat shalat tahiyat, namun ditengah shalat ia berniat menambah 2 raka'at untuk menjadikan shalat tersebut menjadi shalat zuhur, batal. 
  • Mengerti apa yang dibaca dan apa yang diperbuat
  • Mengagungkan Allah selama shalat
  • Merasa gemetar (ketakutan) terhadap Allah
  • Penuh harap kepada Allah
  • Tidak berlama-lama saat shalat berjama'ah
  • Merasa malu terhadap Allah SWT

Makna takbiratul ihram:
  • Takbir pengharaman; haram untuk makan, berbicara, dsb
  • Merasa diri ini kecil, lemah, berserah diri pada Allah SWT

Makna do'a iftitah: berisi permohonan untuk membersihkan diri

Al Fatihah: Ummul kitab, yang menjadikan shalat tidak sah bila tidak dibaca

Ulama yang lain memberikan langkah untuk menggapai khusyuk:
  1. Shalat seolah-olah berdiri dihadapan Allah SWT
  2. Memahami makna bacaan Shalat dan menyerapinya dalam hati
  3. Tidak tergesa-gesa dalam shalat
  4. Menundukkan muka ditempat sujud
  5. Menjauhkan diri dari hal yang dapat mengganggu ketenangan hati.
Wallahu'alam bishawab.

9 Keutamaan Aisyah ra



Rasulullah SAW memanggilnya dengan sebutan "Humairah" yang artinya si jelita yang kemerah-merahan pipinya. Aisyah ra sangatlah cerdas, ia meriwayatkan 2.210 hadits dan banyak dimintai pertimbangan dalam berbagai persoalan. Ia pernah bersama Rasulullah saat wahyu turun. Ia adalah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam kondisi perawan (gadis), sebagai catatan bahwa Rasulullah SAW menikahinya setelah Khadijah ra wafat, dan selain Aisyah ra istri Rasulullah SAW yang lain adalah janda dan sebagian lagi telah mencapai usia tua (pahami tujuan Rasulullah menikahi para ummahat tsb).

9 keutamaan Aisyah ra dibanding istri Rasulullah SAW yang lain:
  1. Rasulullah SAW diminta langsung oleh Allah SWT untuk menikahi Aisyah ra melalui perantaraan mimpi
  2. Rasulullah SAW menikahi Aisyah ra dalam kondisi perawan
  3. Rasulullah SAW wafat di pangkuan Aisyah ra
  4. Ia ikut menguburkan Rasulullah SAW
  5. Ketika wahtu turun, Aisyah ra pernah menemani Rasulullah SAW
  6. Merupakan seorang putri dari Khalifah dan sahabat Rasulullah SAW
  7. Permaafan dari langit atas fitnah yang pernah ia alami
  8. Diciptakan suci dan untuk mendampingi orang yang baik
  9. Dijanjikan ampunan dan kemuliaan

Kekuatan Do'a



Kalau kita renungi, mengapa Allah menciptakan do'a kepada manusia? Karena kenyataannya, kita sangatlah berbatas.  Dengan kemampuan kita yang terbatas ini, maka berdo'alah. "Berdo'alah kepada-Ku niscaya akan kuperkenankan do'amu". Dalam surat al-Baqarah:126 Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Ia sangatlah dekat. Ia senantiasa mendengar do'a-do'a kita, bahkan yang terselip di pinggiran hati sekalipun.

Banyak hal di dunia ini yang harus kita kalahkan dan kita menangi. Kita harus mengalahkan hawa nafsu, mengalahkan pikiran-pikiran sempit, mengalahkan rasa malas, mengalahkan dosen mungkin (maksudnya dengan segera menyelesaikan tugas2nya). Kitapun harus memenangi amalan-amalan, ibadah unggulan, kebaikan pada sesama, pikiran positif, memenangi kewajiban-kewajiban yang harusnya segera ditunaikan, memenangkan akhirat dari dunia.

Waktu-waktu dimana do'a mustadjib:
  • Saat hujan turun
  • Antara adzan dan iqamat
  • Musafir (dalam perjalanan)
 Dan yang membatalkan do'a:
  • Menggunakan atau mengkonsumsi barang haram
  • Maksiat
  • Durhaka pada orang tua
  • Do'a yang terburu-buru
Kunci dari sebuah do'a:
  1. Ikhlas karena allah
  2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW
  3. Yakin dan menghadirkan hatinya (tidak lalai)
  4. Benar-benar berharap hanya kepada Allah
  5. Di waktu yang tepat

Kamis, 07 Maret 2013

Menguak Rahasia Takdir





Wara’ kata Umar bin Khattab “ibarat berjalan di tengah jalan, melihat duri, dan berhati-hati untuk menghindarinya”. Orang yang wara’ senantiasa berhati-hati dalam urusan dunianya. Misal, memperhatikan kehalalan nafkah yang ia berikan kepada istri dan anak-anaknya. 

Pondasi dalam islam adalah aqidah. Mentauhidkan Allah SWT. Dalam rukun iman, kepercayaan seorang muslim juga termasuk pada Qada’ dan Qadar. Dimana Qada’ merupakan kehendak atau ketetapan Allah dan Qadar adalah ukuran dan ketentuan Allah. Beberapa ulama menyatakan bahwa keduanya (Qada’ dan Qadar) sama.

Dalam surat Al-Qira’at (8) bahwa segala sesuatunya telah Allah ukur, surat Al-Baqarah (2/3) agar kita percaya terhadap hal-hal yang baik, dan surat Al-Qomar (49) bahwa Allah menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya. Dalam sebuah keluarga bisa saja ada keturunan yang tidak mirip ayah dan ibunya. Keturunan ini disebut keturunan yang menekan. Sudah Qada’ dan Qadar nya.

Tingakatan takdir yang paling tinggi adalah Al-Ilmu, yaitu memahami bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi. Al-Qur’an yang didalamnya terdapat kisah-kisah dan juga kumpulan dari kitab sebelumnya merupakan bukti bahwa Allah mengetahui yang nyata dan yang ghaib.

Orang yang sombong adalah orang yang ketika mendapat nasehat, ia menyepelekannya dan menganggap rendah orang lain. Sombong dapat membawa kita pada kemaksiatan. Kemaksiatan akan mengikat kita dari amal kebaikan. Kemaksiatan akan menjadikan berat bagi kita untuk melaksanakan qiyamul lail. Kemaksiatan yang dilakukan dapat berakibat pada lingkungan sekitar, misalnya keluarga. Orang-orang yang bermaksiat maka Allah akan menyempitkan rezekinya dan sebaliknya. Orang-orang yang bermaksiat akan berkumpul dengan orang-orang yang bermaksiat, begitupun sebaliknya.

Tidak ada suatu musibahpun atau sesuatu yang terjadi padamu melainkan telah tertulis di kitab Lauhul Mahfudz. Mencontoh dari Salafus shalih yang senantiasa berucap “dosa apa yang telah ku lakukan” bila ia mengalami kejadian buruk, bukan dengan merasionalkan kejadian buruk tersebut.

KAMSO, 7 Maret 2013
Pemateri : Ust. Alwanto

Belajar dari Sang Waktu



Sesungguhnya bagi seorang muslim, waktu yang ada tidaklah mencukupi untuk beramal soleh. Semua orang yang menemui waktu adalah orang-orang yang merugi, kecuali orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan. Orang-orang yang merugi maupun yang beruntung dapat dilihat dari caranya memanfaatkan waktu.

Beberapa pepatah tentang waktu:
Arab                     : Waktu seperti pedang
Amerika                : Time is money

Ada sebuah ungkapan yang memberikan semangat tentang memaksimalkan waktu. “Jika anda tidur sekarang anda akan bermimpi. Jika anda bekerja sekarang anda akan meraih mimpi”.

Panjang pendeknya waktu bergantung kualitas bukan kuantitas. Kita ambil contoh dari seorang tokoh yang bernama An Nawawi. Beliau meninggal di usia 45 tahun, dan di usianya tersebut beliau belum menikah (tak mempunyai anak). Namun, beliau begitu tersohor. Setiap buku yang dibuat adalah buku-buku terbaik. Salah satu contoh buku yang beliau buat adalah Hadits Arba’in.

Ust. Fatan juga mengingatkan tentang hadits 1. Semua amal akan terhapus bila niatnya bukan karena Allah. Siapapun yang menuntut ilmu karena Allah maka ia akan memperoleh kemuliaan sebagai konsekuensinya. Dan kesabaran adalah penolong dari setiap amal perbuatan.

3 aspek iman
1.       Keyakinan dalam hati
2.       Diucapkan dengan lisan
3.       Dibuktikan dengan amal perbuatan

Kamso, 28 Februari 2013
Pemateri : Ust. Fatan Fantastik

Jumat, 28 Desember 2012

Islam Menghargai Wanita

Happy Mom's Day
 
Beberapa hari yang lalu, dimana saat kita membuka jejaring sosial maka mendadak isinya berupa ungkapan cinta kepada Bunda, Ibu, Mama, Ummi, Enyak, dan sebutan lainnya. Ya, hari Ibu, hari yang harusnya kita peringati setiap hari, setiap jam, menit, dan detik. Karena Nabi SAW pun telah mengajarkan kepada kita, bahwasanya Syurga ada di bawah telapak kakinya, murka nya Allah melalui murka nya dan ridhonya Allah adalah ridhonya, orang yang harus kita hormati tiga kali lebih dahulu dibandingkan ayah.

Pada masa jahiliyah, seperti yang sudah sering kita dengar, bayi perempuan yang baru lahir harus dikubur hidup-hidup. Bahkan Khalifah Umar bin Khattab saat masih jahiliyah (belum mendapatkan hidayah) pun mengikuti prosesi yang dianggap sakral oleh penganut paganisme tersebut. Bagaimana kondisi pernikahan saat itu? Ada 4 jenis pernikahan pada zaman jahiliyah, yaitu
  1. Pernikahan yang lazim seperti saat ini
  2. Istibda, yaitu pernikahan dimana saat istri haid maka diperbolehkan bergaul dengan laki-laki lain yang tujuannya adalah untuk memperbaiki keturunan
  3. Rad, bila wali dari perempuan menancapkan bendera merah didepan rumah yang berarti anak perempuannya boleh digauli oleh 10 orang laki-laki.
  4. Rabi, bila wali dari si perempuan menancapkan bendera hitam di depan rumah yang berarti anak perempuannya boleh digauli oleh siapapun selama bendera tersebut tertancap.

Di dalam Islam, hak-hak dan kewajiban wanita sangatlah dijaga. Seorang ayah memiliki kewajiban untuk menikahkan putrinya pada orang yang tepat, yang ia anggap baik sehingga ia mengeluarkan restunya. Seorang suami wajib menjaga, menghormati dan memuliakan istrinya. Bahkan, islam pun mengatur hak waris bagi perempuan maupun laki-laki. Tapi mengapa ya, dalam aturan hak waris laki-laki dapat 2/3 sedangkan perempuan 1/3, nampaknya seperti kurang adil, ada alasannya lho. Mari kita tinjau lagi hak dan kewajiban dari perempuan dan laki-laki. Bahwasanya wanita tidak memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya, saat masih berstatus anak, ia dinafkahi oleh ayahnya sedangkan saat telah menikah, ia dinafkahi suaminya. Ia menerima mahar sedangkan si lelaki memberikan mahar. Oleh karenanya, bagi si wanita warisan tersebut sepenuhnya adalah miliknya, sedangkan laki-laki ia memiliki kewajiban-kewajiban seperti yang telah disebutkan, mungkin salah satunya menggunakan warisan tersebut.

Dengan kewajiban-kewajiban tersebut maka Allah memberikan kelebihan kepada laki-laki atas perempuan, yaitu atas akal dan kekuatannya yang melebihi wanita. Namun, wanita wanita pun memiliki kelebihan, yaitu dalam hal memperhatikan hal-hal yang kecil. Sehingga, dengan perbedaan etrsebut mereka dapat saling melengkapi. Sejarah telah mencatat banyak kisah atas kesuksesan seorang wanita, bukan dalam hal karir, namun perannya sebagai seorang istri maupun ibu. Muhammad Alfatih, penakluk konstantinopel, yang masih sangat muda, merupakan hasil didikan dari seorang ibu yang luar biasa. Tentu kita tidak lupa dengan sosok Khadijah binti Khuwailit pendamping Rasulullah yang setia menemani Nabi SAW .

Lalu, mengapa Rasulullah SAW menikah lagi? Hei, tunggu dulu, cari informasi yang tepat. Terkadang poligami menjadi hal sensitif yang membuat wanita menjadi sinis dengan agama ini. Ingat dengan baik, Rasulullah menikah dengan Khadijah di usia 25 tahun dan bahwa Rasulullah menikah lagi, setelah Khadijah wafat lho saat itu usia beliau SAW 52 tahun, dan beliau SAW wafat di usia 63 tahun, saya justru sangat menangkap bahwa beliau adalah orang yang sangat setia, beliau SAW membersamai Khadijah selama 27 tahun dan baru menikah lagi setelah istri yang sangat ia SAW cintai wafat. Dan rentang waktu beliau SAW menikahi 11 wanita yang lain hanya 11 tahun.

Kemudian catatan penting berikutnya adalah para wanita yang ia nikahi sebagian besar adalah janda beranak banyak yang telah berusia lanjut dan suaminya wafat di medan perang. Pernikahan Rasulullah yang kedua adalah dengan Saudah, yaitu janda usia 70 tahun, beranak 12 yang suaminya wafat karena perang, pun istri yang lain dinikahi beliau dengan alasan untuk pemuliaan wanita. Bagaimana dengan Aisyah? Ya, Aisyah masih perawan, beberapa sumber menyatakan bahwa saat dinikahi usianya bukan 9 tahun, namun 19 tahun, dan Rasulullah tidak membersamai Aisyah sampai Aisyah mencapai masa baligh.

Wallahu'alam bi showab. Semoga kita bisa menjadi sosok wanita yang baik untuk orang-orang sekitar. Aamiin.

Kamis, 27 Desember 2012

Apakah (Sudahkah) Anda Menikah Karena Allah?

Jembatan di Dekat Mushola Apung SPS UGM

Islam tidak mempersulit umatnya untuk menikah. Dalam islam, syarat sebuah pernikahan meliputi:
  1. Ada mempelai
  2. Wali dari perempuan
  3. Saksi
  4. Mahar

Begitu sederhananya menikah dalam Islam. Namun, beberapa pertimbangan duniawi membuat tiap insan terkadang merasa sulit menjalani sunah Nabi SAW tersebut. Alasannya karena belum siap secara materi, masih dalam proses pendidikan, ingin mengejar karir, takut terbatasi dan masih banyak alasan lainnya.

Solusinya, maka pastikanlah bahwa menikah niatnya hanya untuk ibadah Allah SWT semata.  Mengapa niatan menikah begitu penting:
  • Memudahkan dalam memilih dan mencari pasangan
  • memberikan energi yang besar pada proses saat pra maupun pasca menikah. Maka pilihlah yang akhlaknya baik. Tema besar dalam rumah tangga islami adalah perbaikan diri dan umat (akhirat), bukan hanya pencapaian duniawi.

Maka, jika seorang muslim telah mampu, menikahlah, karena pertolongan Allah sangatlah dekat. Bagaimana dengan kriteria mampu dalam islam:
  1. Siap secara mental, meliputi siap menggantikan perwalian/peran Ayah bagi sang istri-untuk laki-laki (siap menggantikan peran ibu bagi sang suami-untuk wanita, red), menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, serta berkewajiban untuk saling memikul konsekuensi akhirat atas peran masing-masing.
  2. Memiliki potensi berupa ilmu, pengethauan, skill, dsb.
  3. Mandiri, artinya mampu keluar dari tanggungan orang tua masing-masing.

Wallahu'alam bi showab. Semoga Allah memudahkan urusan kita yang satu ini.

*Kajian Kamis Sore (Kamso) HIMMPAS UGM edisi 27 Desember 2012 di Mushola Apung SPS UGM dengan pemateri Ust. Darul Falah

Senin, 17 Desember 2012

Angka-angka yang Melapangkan by Darwis Tere Liye


Jika kita disuruh berhitung dari angka 1 sampai dengan 100.000 selama 24 jam, siang malam, tidak boleh tidur, tidak boleh makan, terus saja berhitung, maka, rasa-rasanya, kita semua tidak akan kuat. Berhitung hingga 1.000 saja sudah ribet, apalagi hingga 100.000, bisa keplintet, plintet bibir kita berhitung. Tapi ada yang bisa melakukannya, terus 'berhitung', tiada henti, tiada error, terusss saja 'berhitung', siang malam, tiap menit, tiap detik, sesuai dengan ritmenya, itulah jantung kita. Menurut penelitian, jantung manusia rata2 berdetak 72 kali setiap menit, alias 103ribu kali selama 24 jam, tidak bosan, tidak lelah, tidak tertukar. Jika usia kita hingga 66 tahun, maka itu berarti jantung kita berdetak tiada henti hingga 2,5 milyar kali. Baru berhenti jika kita telah dingin membeku.

Sungguh besar kasih sayang Tuhan.

Pernahkah kita berdiri di bawah air terjun? Pasti banyak yang pernah. Amat menyenangkan duduk di bawah air terjun setinggi 2-3 meter, seperti dipijat oleh airnya. Jika tingginya 4-10 meter, pijatannya semakin keras. Jika tinggi air terjunnya 100 meter? Coba saja kunjungi, banyak air terjun di Indonesia yang tingginya diatas 100 meter. Bukan dipijat lagi, derasnya air jatuh bahkan bisa membahayakan. Nah, jika air terjunnya seperti Angel Falls, Venezuela, yang tingginga nyaris 1000 meter? Saya belum pernah ke Venezuela, tapi rasa2nya berdiri di bawah air terjun itu, menyambut derasnya air, sama saja mencari masalah. Tapi, sungguh Tuhan punya skenario yang sempurna saat menurunkan hujan. Tinggi awan2 itu ribuan meter, bahkan awan cumulus nimbus bisa menjejak tinggi 16 kilometer. Apa jadinya jika air hujan diturunkan seperti menumpahkan air dari ember? Binasa semua kehidupan di bawah, terkena tsunami vertikal. Tuhan mendesain, menurunkannya dengan tetes-tetes air saja. Yang saat turun, bahkan sedemikian rupa bisa melambat dengan sendirinya (tidak seperti batu jatuh yg justeru semakin cepat), tetes air hujan tiba di permukaan bumi hanya dgn kecepatan 6-30km/jam. Kecepatan yg sangat aman. Kaca mobil tidak pecah, kepala manusia tidak berdarah, atap rumah tidak berlubang. Menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Sungguh besar kasih sayang Tuhan.

Ada banyak sekali 'angka2' di sekitar kita. Tidak perlu pengetahuan matematika atau pengetahuan alam tingkat tinggi untuk memahaminya. Dengan resep kecil: selalu menggunakan sudut pandang yang berbeda, maka semoga semua hal itu mampu memberikan rasa lapang di hati. Rasa bersyukur. Bahwa hidup kita ini selalu dalam naungan kasih sayang Tuhan. Tidak terkecuali--bahkan orang jahat sekalipun.
Copas from : Darwis Tere Liye

Jumat, 14 Desember 2012

Semangat Baru Hijriyah

Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan bantuan orang lain dalam hidupnya. Bahkan sang teladan pun, Rasulullah SAW, dalam dakwahnya dibantu oleh manusia lain. Rasulullah SAW dikuatkan oleh Khadijah ra saat menerima wahyu pertama, kita tahu, saat itu Rasulullah SAW begitu ketakutan, namun Khadijah ra sang istri membantu menguatkannya. Selain Khadijah, awal perjalanan dakwah Rasulullah SAW juga dibantu oleh Abu Thalib. Ini adalah bukti bahwa beliau SAW adalah orang biasa yang dakwahnya realistis (butuh orang lain) untuk ditiru oleh umatnya. Dan saat islam telah kuat, Allah mengambil Khadijah ra dan Abu Thalib.

Saat ditinggal oleh dua orang yang membantu "menguatkannya", tentulah Rasulullah SAW sedih. Secara berturutan ia ditinggal oleh istri tercinta sekaligus paman yang membela nya mati-matian dalam berdakwah. Namun, Rasulullah SAW tidak larut terus menerus dalam kesedihan. Ia bangkit dan tetap melanjutkan roda dakwah dengan bantuan-bantuan manusia lainnya (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali, dan para sahabat yang lain). 

Karena setiap kebaikan terkumpul pada dirinya SAW, maka ia SAW lah orang yang pantas kita teladani. Salah satunya dalam menyingkirkan kesedihan yang berlebihan. Orang yang larut dalam kesedihan adalah orang yang tidak bisa menerima takdir kehidupan. Sesungguhnya setiap episode kehidupan ini diiringi oleh takdir Allah.  Maka, salah satu upaya untuk memperoleh semangat baru adalah dengan menghilangkan kesedihan-kesedihan yang mungkin sudah sangat berlarut-larut dan berlebihan. Yang harus diingat bahwa, ada kesedihan yang perlu tetap kita tanamkan, misal kesedihan karena merindukan Rasulullah SAW yang justru memotivasi kita untuk mengejar jannahNya.

Surat Ar-Ra'du : 11
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum ia mengubah dirinya sendiri". Dalam semangat baru hijriyah, mari kita intropeksi diri. Sudahkah ada perbaikan diri ini dari tahun sebelumnya? Adakan perubahan baru kearah yang lebih baik dari diri ini? Kuncinya adalah semangat. Bagaimana untuk memperoleh semangat? Jawabannya adalah kita harus memiliki tujuan.

Apa saja yang harus diubah dalam semangat baru hijriyah?
  1. Rasa sedih berlebihan
  2. Malas, yang merupakan tipu daya setan. Ingatlah bahwa tidak ada kesuksesan dengan kemalasan.
  3. Ketakutan yang berlebihan
  4. Bakhil.

Hj. Ninih Muthmainah


Catatan ini dibuat pada tanggal 8 Desember 2012 saat kajian dengan pemateri Teh Ninih di Masjid Nurul Asri, Yogyakarta. -dengan pengubahan dan penambahan seperlunya- :)

Kamis, 13 Desember 2012

Al-Ma'arij : 5

Fashbir shobron jamiila.. (Al-Ma'arij  : 5)
Subhanallah, sungguh ia yang telah menciptakan yang paling paham tiap sudut hati umatNya. Fashbir shobron jamiila, artinya "maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik". Begitu menyentuh kalimat ini diantara lautan kalimat kalamNya. Rasulullah sang teladan diperintahkan untuk bersabar, dengan sabar yang baik. Jelaslah, bahwa sabar ada tingkatannya, namun tak pernah ada batasnya. Allahpun meminta kita untuk bersabar dan menguatkan kesabaran kita. Dan bersabar dengan baik.

Apa itu kesabaran yang baik? Kesabaran yang baik adalah kesabaran tanpa mengeluh, masya Allah, sungguh indah aturan ini dibuat. Seorang muslim bukanlah pengeluh, ia bersabar, menguatkan kesabaran, dan memperbaiki kesabarannya, sungguh indah aturan ini. Ya, karena Ia Si Pencipta, yang paling memahami.

Bersabar tentulah diiringi dengan ikhtiar yang kuat, semangat yang berkobar, karena kesabaran adalah modal terbesar dalam perjuangan. Kesabaran akan selalu diakhiri dengan keberuntungan (kebaikan).

"Dan tidaklah ada kesabaran itu pada dirimu, kecuali atas taufik Allah"

"Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang sabar yang diberikan pahala tanpa batas"

"Innallaha ma'ashobirin ; Sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar"

"Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian (musibah)"

"Orang yang tidak rela dengan keputusan-keputusan ku, dan sabar dengan takdirku, maka hendaklah ia mencari tuhan selainku"-Hadits Qudsi

Sungguh, mengeluh akan mengurangi kualitas sabar kita. Maka sabar-sabarkanlah diri, kuatkanlah, dan perbaiki. Dan sabar-sabarkanlah diri dengan tarbiyah.


*Mengingatkan diri..

Kamis, 06 Desember 2012

Akhlak Rasulullah SAW


Rasulullah SAW adalah manusia yang paling pemberani. Ali bin Abi Thalib bertutur: “Bila perang tengah berkecamuk, kami berlindung kepada Rasulullah saw“.

Beliau orang yang paling dermawan. Tak pernah menolak permintaan orang lain.

Orang yang paling lembut.

Orang yang pemalu, lebih pemalu dari seorang gadis yang dipingit. Pandangan tidak tertuju hanya pada satu orang. Tidak pernah balas dendam saat disakiti orang lain, atau marah atas perbuatan jelek orang padanya; kecuali jika hukum-hukum Allah SWT dilanggar, maka balas dendam yang dia lakukan semata-mata karena Allah SWT. Bila marah karena Allah SWT tiada seorang pun yang berani membantah.

Siapa pun, baik yang kuat, lemah, jauh maupun dekat diperlakukan sama olehnya.

Tidak pernah mencela makanan; bila menghendaki, beliau makan; bila tidak suka, beliau tinggalkan. Tidak pernah makan dengan bersandar, atau pun di meja makan. Tidak pernah menolak makanan yang boleh untuk dimakan; bila hanya menjumpai kurma, atau hanya roti kering, atau daging panggang beliau makan, atau hanya roti dari gandum, beliau makan seadanya. Bila ada susu, cukup beliau minum itu saja.Pernah makan semangka basah. Beliau menyukai manisan dan madu.

Abu Hurairah ra berkata: “Sampai wafatpun Rasulullah SAW tidak merasa pernah kenyang, meski hanya dengan roti gandum“

Pernah terjadi pada keluarga Muhammad SAW selama tiga bulan, tiada nyala api di rumahnya (memasak) makanan mereka hanya kurma dan air.

Menerima dan makan hadiah, serta membalasnya; dan tidak menerima sedekah.

Tidak berlebihan dalam berpakaian dan makanan; berpakaian dan makan seadanya.

Menambal sandal dan baju sendiri, membantu aktifitas rumah tangganya. Menjenguk orang sakit.
Sangat tawadhu’. Menghadiri undangan siapa saja baik kaya, fakir, orang berada maupun orang rendahan.

Mencintai orang-orang miskin; menjenguk mereka yang sakit dan melayat jenazah mereka. Tidak menghina orang fakir karena kefakirannya dan tidak takut pada penguasa karena kekuasaannya. Mengendarai kuda, onta, keledai, dan bagal. Memboncengkan budak atau yang lainnya. Tidak membiarkan orang lain berjalan di belakangnya seraya berkata:“Biarkan di belakangku untuk para Malaikat“

Mengenakan kain wol, memakai sandal yang ditambal. Pakaian yang amat beliau sukai adalah jubah yang terdapat warna merah dan putih, terbuat dari kain Yaman

Cincin dan matanya terbuat dari Perak.Dipakai di jari manis kanan, dan terkadang di sebelah kiri. Pernah mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar, padahal Allah telah memberikan kunci -kunci pembendaharaan langit dan bumi, tetapi beliau enggan menerimanya dan lebih memilih akherat. Ia banyak berdzikir dan sedikit main-main. Memanjangkan shalat dan menyingkat khutbah. Paling murah senyum, berseri-seri wajahnya padahal ia selalu sedih dan banyak pikiran. Menyukai wangi-wangian, membenci bau yang tidak sedap. Bersahabat dan menghormati orang-orang mulia, tidak pernah bermuka masam dan ramah pada siapapun. Mentolerir permainan yang tidak dilarang, bergurau, dan tetap berkata benar dalam gurauannya, memaafkan orang-orang yang meminta maaf.
Memiliki budak laki-laki dan perempuan; pakaian dan makanannya tidak pernah melebihi mereka.

Waktunya hanya dihabiskan untuk ibadah pada Allah, atau memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya.Menggambalakan kambing, dan berkata:“Seluruh nabi melakukan gembala kambing“
Aisah ra pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, maka dia pun menjawab:”Akhlak beliau adalah alQur’an”. Marah dan ridhanya berpijak padanya.

Dalam riwayat yang shahih dari Anas bin Malik ra berkata:
Tidak pernah aku menyentuh sutera yang lebih halus dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tidak pernah aku mencium bau yang lebih harum dari aroma tubuh Rasulullah saw. Setelah aku melayaninya selama 10 tahun, tak pernah sekalipun ia berkata:“cih“. Dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang kulakukan:“Kenapa kau lakukan itu?“.Dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang tidak kulakukan:“Mengapa tidak kau lakukan itu?

Allah telah mengumpulkan dalam dirinya kesempurnaan akhlak, keindahan perilaku. Allah memberikan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang, yang di dalamnya terdapat keberuntungan dan keselamatan.Padahal ia adalah ummi, tidak bisa membaca dan menulis dan tidak memiliki guru dari kalangan manusia. Tumbuh di negeri yang tandus dan terbelakang. Allah memberikannya sesuatu yang tidak diberikan pada siapapun dari makhluknya, dan telah memilihnya diantara makhluk-makhlukNya, baik yang lalu maupun yang akan datang. Semoga Allah selalu memberikan shalawat kepadanya hingga hari akhir.

Dikutip dari:
Sejarah Rasulullah SAW oleh Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy.

Rabu, 14 November 2012

SUJUD TILAWAH



Sujud tilawah dilakukan karena membaca ayat “SAJADAH’ . Sujud hukumnya sunah dan dilakukan satu kali sujud. Dasarnya adalah hadis Nabi Saw. antara lain adalah :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ فَاِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ. رواه ابوداود

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi saw. membacakan Al-Qur’an kepada kami, maka setelah beliau selesai membaca ayat sajadah, beliau bertakbir lalu sujud, dan kami ikut sujud bersamanya. (HR.Abu Daud)[1]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّوْرَةَ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ مَعَهُ حَتَّى لاَ يَجِدُ اَحَدُنَا مَكَانًا لِمَوْضِعِ جَبْهَتِهِ. رواه ابو داود

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi saw. membacakan sebuah surah Al-Qur’an lalu beliau sujud dan kami ikut sujud bersamanya, hingga salah seorang kami tidak mendapatkan tempat untuk sujud meletakkan dahinya.(HR. Abu Daud)[2]

Syarat yang harus diperhatikan sebelum melakukan sujud tilawah adalah (1) suci dari hadas dan najis, baik badan, pakaian dan tempat sujud, (2) menutup aurat, dan (3) telah selesai membaca ayat sajadah sampai pada akhir ayat. Adapun cara melakukan sujud tilawah adalah (1) menghadap ke arah kiblat, (2) takbir bersamaan dengan niat melakukan sujud tilawah, (3) sujud satu kali dengan cara seperti sujud dalam shalat, (4) duduk kembali dengan takbir, dan (5) mengucapkan salam.

Dalam sujud tilawah disunahkan membaca do’a berikut ini berdasarkan hadis Nabi saw.:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ، يَقُوْلُ فِى السَّجْدَةِ مِرَارًا : "سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَ قُوَّتِهِ". رواه ابو داود

Dari ‘Aisyah ia berkata : Rasulullah saw. dalam sujud membaca Al-Qur’an (sujud tilawah) di malam hari, membaca do’a berulang-ulang yaitu : Wajahku bersujud kepada Tuhan yang menciptakan, membentuk, membuka pendengaran dan penglihatan, dengan daya dan kekuatan-Nya. (HR.Abu Daud)[3]

Dalam Al-Qur’an ada 15 tempat ayat-ayat sajadah, yaitu :

1. QS. Al-A’raf : 206 – وَلَهُ يَسْجُدُوْنَ

2. QS.Ar-Ra’du : 15 - بِالْغُدُوِّ وَالأَصَالِ

3. QS.An-Nahl : 49 – وَهُمْ لاَ يَسْتكْبِرُوْنَ

4. QS. Al-Isra’ : 109 – وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْخًا

5. QS. Maryam : 58 -- سُجَّدًا وَبُكِيًّا

6. QS.Al-Haj : 18 -- يفْعَلُ مَا يَشَاءُ

7. QS.Al-Haj : 77 -- لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

8. QS.Al-Furqan : 60 -- وَزَادُهُمْ نُفُوْرًا

9. QS.An-Naml : 26 -- رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

10. QS.As-Sajdah : 15—وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ

11. QS.Shad : 24 – رَاكِعًا وَ اَنَابَ

12. QS.Fush-Shilat : 38 وَهُمْ لاَ يَسئَمُوْنَ

13. QS.An-Najm : 62 لِلَّهِ وَاعْبُدُوْا

14. QS.Al-Insyiqaq : 21 لاَ يَسجُدُوْا

15. QS.Al-‘Alaq : 19 وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Ayat-ayat sajadah dalam Al-Qur’an, biasanya diberi tanda dengan tulisan سجدة yang terletak ditepi Al-Qur’an dan dalam Al-Qur’an tertentu ada yang menggunakan gambar masjid (Q) pada akhir ayat sajadah.

Sumber: Pesantren Ulil Albab

Follower