Jumat, 28 Desember 2012

Islam Menghargai Wanita

Happy Mom's Day
 
Beberapa hari yang lalu, dimana saat kita membuka jejaring sosial maka mendadak isinya berupa ungkapan cinta kepada Bunda, Ibu, Mama, Ummi, Enyak, dan sebutan lainnya. Ya, hari Ibu, hari yang harusnya kita peringati setiap hari, setiap jam, menit, dan detik. Karena Nabi SAW pun telah mengajarkan kepada kita, bahwasanya Syurga ada di bawah telapak kakinya, murka nya Allah melalui murka nya dan ridhonya Allah adalah ridhonya, orang yang harus kita hormati tiga kali lebih dahulu dibandingkan ayah.

Pada masa jahiliyah, seperti yang sudah sering kita dengar, bayi perempuan yang baru lahir harus dikubur hidup-hidup. Bahkan Khalifah Umar bin Khattab saat masih jahiliyah (belum mendapatkan hidayah) pun mengikuti prosesi yang dianggap sakral oleh penganut paganisme tersebut. Bagaimana kondisi pernikahan saat itu? Ada 4 jenis pernikahan pada zaman jahiliyah, yaitu
  1. Pernikahan yang lazim seperti saat ini
  2. Istibda, yaitu pernikahan dimana saat istri haid maka diperbolehkan bergaul dengan laki-laki lain yang tujuannya adalah untuk memperbaiki keturunan
  3. Rad, bila wali dari perempuan menancapkan bendera merah didepan rumah yang berarti anak perempuannya boleh digauli oleh 10 orang laki-laki.
  4. Rabi, bila wali dari si perempuan menancapkan bendera hitam di depan rumah yang berarti anak perempuannya boleh digauli oleh siapapun selama bendera tersebut tertancap.

Di dalam Islam, hak-hak dan kewajiban wanita sangatlah dijaga. Seorang ayah memiliki kewajiban untuk menikahkan putrinya pada orang yang tepat, yang ia anggap baik sehingga ia mengeluarkan restunya. Seorang suami wajib menjaga, menghormati dan memuliakan istrinya. Bahkan, islam pun mengatur hak waris bagi perempuan maupun laki-laki. Tapi mengapa ya, dalam aturan hak waris laki-laki dapat 2/3 sedangkan perempuan 1/3, nampaknya seperti kurang adil, ada alasannya lho. Mari kita tinjau lagi hak dan kewajiban dari perempuan dan laki-laki. Bahwasanya wanita tidak memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya, saat masih berstatus anak, ia dinafkahi oleh ayahnya sedangkan saat telah menikah, ia dinafkahi suaminya. Ia menerima mahar sedangkan si lelaki memberikan mahar. Oleh karenanya, bagi si wanita warisan tersebut sepenuhnya adalah miliknya, sedangkan laki-laki ia memiliki kewajiban-kewajiban seperti yang telah disebutkan, mungkin salah satunya menggunakan warisan tersebut.

Dengan kewajiban-kewajiban tersebut maka Allah memberikan kelebihan kepada laki-laki atas perempuan, yaitu atas akal dan kekuatannya yang melebihi wanita. Namun, wanita wanita pun memiliki kelebihan, yaitu dalam hal memperhatikan hal-hal yang kecil. Sehingga, dengan perbedaan etrsebut mereka dapat saling melengkapi. Sejarah telah mencatat banyak kisah atas kesuksesan seorang wanita, bukan dalam hal karir, namun perannya sebagai seorang istri maupun ibu. Muhammad Alfatih, penakluk konstantinopel, yang masih sangat muda, merupakan hasil didikan dari seorang ibu yang luar biasa. Tentu kita tidak lupa dengan sosok Khadijah binti Khuwailit pendamping Rasulullah yang setia menemani Nabi SAW .

Lalu, mengapa Rasulullah SAW menikah lagi? Hei, tunggu dulu, cari informasi yang tepat. Terkadang poligami menjadi hal sensitif yang membuat wanita menjadi sinis dengan agama ini. Ingat dengan baik, Rasulullah menikah dengan Khadijah di usia 25 tahun dan bahwa Rasulullah menikah lagi, setelah Khadijah wafat lho saat itu usia beliau SAW 52 tahun, dan beliau SAW wafat di usia 63 tahun, saya justru sangat menangkap bahwa beliau adalah orang yang sangat setia, beliau SAW membersamai Khadijah selama 27 tahun dan baru menikah lagi setelah istri yang sangat ia SAW cintai wafat. Dan rentang waktu beliau SAW menikahi 11 wanita yang lain hanya 11 tahun.

Kemudian catatan penting berikutnya adalah para wanita yang ia nikahi sebagian besar adalah janda beranak banyak yang telah berusia lanjut dan suaminya wafat di medan perang. Pernikahan Rasulullah yang kedua adalah dengan Saudah, yaitu janda usia 70 tahun, beranak 12 yang suaminya wafat karena perang, pun istri yang lain dinikahi beliau dengan alasan untuk pemuliaan wanita. Bagaimana dengan Aisyah? Ya, Aisyah masih perawan, beberapa sumber menyatakan bahwa saat dinikahi usianya bukan 9 tahun, namun 19 tahun, dan Rasulullah tidak membersamai Aisyah sampai Aisyah mencapai masa baligh.

Wallahu'alam bi showab. Semoga kita bisa menjadi sosok wanita yang baik untuk orang-orang sekitar. Aamiin.

Follower