Kamis, 13 Maret 2014

BIODIESEL DAN KARAKTERISTIKNYA



Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang diformulasikan khusus untuk mesin diesel dan terbuat dari minyak nabati. Secara umum, proses pembuatan biodiesel merupakan proses transesterifikasi antara minyak nabati dengan alkohol pada suhu disekitar titik didih alkohol. Biodiesel memiliki kelebihan, antara lain tidak memerlukan modifikasi dalam penggunaannya, memiliki bilangan setana yang tinggi, ramah lingkungan, memiliki daya pelumas yang tinggi, aman, dan tidak beracun (Budiman, 2004). Selain itu, biodiesel dari minyak nabati juga dapat diperbaharui, mudah diproses, harganya relatif stabil, serta mudah terurai secara alami (Elisabet dan Haryati, 2001).
Biodiesel memiliki bilangan setana lebih tinggi daripada petrodiesel, tidak mengandung senyawaan aromatik, dan mengandung 10-11% berat oksigen. Karakteristik biodiesel ini mampu mengurangi emisi karbonmonoksida (CO), hidrokarbon, dan partikulat dalam gas buangnya dibandingkan dengan petrodiesel. Karbondioksida dihasilkan melalui pembakaran biodiesel yang dapat didaur ulang melalui fotosintesis dengan demikian dapat meminimalkan dampak dari pembakaran biodiesel pada efek rumah kaca (Ramadhas et al., 2005).
Berdasarkan SNI-04-7182-2006 yang diterbitkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) pada tanggal 22 Februari 2006, biodiesel harus memenuhi karakteristik (data lengkap terlampir), antara lain kerapatan spesifik (60/60oF) 0,85-0,92; viskositas kinematis pada suhu 40oC (mm2/s) 2,3-6,0; titik tuang (oC) maksimal 18; dan titik nyala (oC) minimal 100.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengubah sifat minyak nabati menyerupai sifat bahan bakar biodiesel. Viskositas yang tinggi, volatilitas yang rendah, dan adanya ikatan tak jenuh yang panjang menjadi masalah yang dimiliki minyak nabati bila diterapkan langsung sebagai bahan bakar. Masalah ini dapat diatasi dengan empat metode, yaitu pengenceran dengan hidrokarbon,  mikroemulsi, pirolisis, dan transesterifikasi atau esterifikasi (Balat, 2010).
Ma et al. (1999) melaporkan bahwa campuran 20% minyak sayur dan 80% minyak diesel telah berhasil digunakan oleh Carterpillar (Brazil) untuk mesin mereka tanpa modifikasi. Hasil campuran tersebut menurunkan viskositas minyak sayur, tetapi hasil tes performa mesin menunjukkan terjadinya kinerja jangka panjang yang buruk meliputi terbentuknya karbon, polimerisasi, dan peningkatan suhu operasional mesin. Pembuatan biodiesel secara mikroemulsi juga memiliki masalah terkait performa mesin dalam jangka panjang. Emulsi non-ionik yang terbuat dari dua atau lebih alkohol dan satu atau lebih minyak nabati dapat menurunkan viskositas, tetapi merusak mesin (Ma and Hanna, 1999). Sementara, bahan bakar diesel yang terbuat secara pirolisis tidak memberikan masalah pada performa mesin, tetapi metode ini memiliki kelemahan terkait tingginya biaya produksi khususnya peralatan yang digunakan. Perengkahan termal minyak nabati sebagian besar diproduksi dari alkana, alkena, serta ester asam lemak (Alencar et al., 1983; Schwad et al., 1988; Demirbas, 2009). Oleh karena itu, transesterifikasi merupakan metode yang paling banyak diteliti dan digunakan untuk produksi biodiesel dikarenakan kemudahannya serta telah digunakan pada industri untuk mengkonversi minyak nabati menjadi biodiesel (Juan et al., 2011).

2 komentar:

Follower