Kamis, 13 Maret 2014

KATALIS ASAM HETEROGEN PADA PEMBUATAN BIODIESEL



Proses produksi biodiesel dengan katalis heterogen merupakan teknologi yang ramah lingkungan (green technology) karena katalis tersebut dapat didaur ulang (recycle), limbah yang dihasilkan sedikit, pemisahan biodiesel dari gliserolnya jauh lebih mudah, dan mengurangi masalah korosi (Suarez et al., 2007).
Baru-baru ini, beberapa peneliti menilai kelayakan ekonomi produksi biodiesel dari limbah minyak nabati. Zhang et al. (2003) mempelajari biaya produksi biodiesel yang dibuat dari limbah minyak nabati. Mereka melaporkan bahwa dengan penggunaan katalis asam heterogen biaya produksi menjadi lebih ekonomis. Penggunaan katalis heterogen akan mengurangi pengolahan hilir.
Crude Palm Oil (CPO) parit dan minyak non-edible lainnya yang memiliki kandungan asam lemak yang tinggi akan menyebabkan pembentukan sabun dan menurunkan yield biodiesel serta masalah sulitnya pemisahan katalis tersebut dengan produk jika menggunakan katalis homogen (Van Gerpen, 2005). Penggunaan enzim untuk mengkatalisis produksi biodiesel juga telah menarik banyak peneliti beberapa tahun belakangan ini karena enzim dapat mentolerir kandungan asam lemak bebas dan air serta kemudahan dalam pemurnian biodiesel dan gliserol, tetapi transesterifikasi enzimatik masih belum dapat dikomersialkan untuk produksi biodiesel dikarenakan waktu tinggal yang lama dan biaya produksi yang tinggi (Dizge et al., 2009). Katalis heterogen akan mengkonversi trigliserida menjadi biodiesel secara perlahan-lahan, tetapi merupakan cara yang ekonomis karena katalisnya dapat didaur ulang untuk kedua proses, baik batch atau kontinu (West et al., 2008).
Katalis asam padat yang ideal untuk reaksi esterifikasi minyak nabati harus memiliki karakteristik seperti sistem interkoneksi dengan pori yang besar, konsentrasi situs asam kuat yang moderat hingga tinggi dan permukaan hidrofobik (Kulkarni dan Dalai, 2006). Beberapa katalis asam padat yang terus dikembangkan antara lain zeolit (Lotero et al., 2005), resin penukar ion sulfonat (Ozbay et al., 2008), silika mesostructure modifikasi sulfonat (Mbraka and Shanks, 2006), katalis berbasis karbon tersulfonasi (Hara, 2009), heteropolyacids (HPA) (Narasimharao et al., 2007), titanium oksida (TiO2) (Chen et al., 2007),  dan zirkonium oksida (ZrO2) (Miao and Gao, 1997).

1 komentar:

  1. ka' ida uda pernah pakek katalis karbon tersulfonasi??
    karbon tersulfonasi itu maksudny giman, ap terbuat dari arang aktif atau dari gula yg di kalsinasi??
    trimakasih buat infonya

    BalasHapus

Follower